Mapping Eksisting Ruang Terbuka di Depan Benteng Fort Rotterdam

Mapping Eksisting

Ruang Terbuka yang berada di depan Benteng Fort Rotterdam di gunakan juga sebagai Dermaga untuk menyeberang ke pulau-pulau terdekat sepeti Pulau LaeLae dan Pulau Kahyangan. Pengunjung dapat menyeberang menggunakan perahu sedang yang disewakan.

Kondisi Ruang Terbuka ini sedikit tidak teratur dengan jajaran Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berantakan, tidak tersedianya lahan parkir, banyaknya tumpukan sampah yang tidak terangkut serta kondisi dermaga yang tidak layak.

Letaknya yang berhadapan dengan Benteng Fort Rotterdam menjadikan lokasi ini dapat dengan mudah dilihat oleh pengunjung benteng. Ruang Terbuka ini bahkan berpotensi menjadi Ruang Terbuka Hijau dan Dermaga yang lebih layak agar pengunjung yang hendak menyeberang ke pulau ataupun hanya bersantai di depan Benteng Fort Rotterdam merasa lebih nyaman.

Masalah RTH di Makassar

Kota Makassar adalah salah satu kota terbesar di Indonesia, yang tergolong metropolis dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,5 juta penduduk (BPS, 2013) dan luas wilayah sebesar 175,77 km2. Kota Makassar menjadi salah satu kota yang perkembangannya cukup pesat dalam dekade terakhir ini. Pembangunan sering dicerminkan oleh adanya perkembangan fisik kota yang Iebih ditentukan oleh sarana dan prasarana yang ada. Tetapi pada kenyataanya ketersediaan RTH di daerah perkotaan semakin sedikit, berbanding terbalik dengan pembangunan yang semakin pesat. Sejumlah areal di perkotaan, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, ruang publik, telah tersingkir akibat pembangunan gedung-gedung yang cenderung berpola “kontainer” (container development) yakni bangunan yang secara sekaligus dapat menampung berbagai aktivitas sosial ekonomi, seperti Mall, Perkantoran, Hotel, dll.

Padahal berdasarkan Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang menyebutkan bahwa 30% wilayah kota harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat. RTH publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum.
Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan dijelaskan bahwa luas RTH kota minimum tersebut merupakan ukuran minimum untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikrolat, maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih, serta dapat meningkatkan nilai estetika kota. Menurut Anwar Lasapa, faktanya sampai saat ini RTH makassar tidak sampai 10 persen. Sangat jauh dari yang diamanatkan Undang-undang. Padahal ruang terbuka hijau diperlukan untuk kesehatan, arena bermain, olah raga dan komunikasi publik. Pembinaan ruang terbuka hijau harus mengikuti struktur nasional atau daerah dengan standar-standar yang ada. Hal ini tentunya dapat mempengaruhi aspek-aspek sosial, ekonomi, dan budaya dari masyarakat sekitar.

Ruang terbuka hijau dalam fungsinya secara sosial dapat menurunkan tingkat stress masyarakat, konservasi situs alami sejarah, menurunkan konflik sosial, meningkatkan keamanan kota, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan sebagainya. Singkatnya, RTH dapat menjadi ruang publik dimana semua masyarakat dapat berkumpul dan bercengkrama di ruang tersebut. Selain itu, Komposisi vegetasi dengan strata yang bervariasi di lingkungan kota akan menambah nilai keindahan kota tersebut. Bentuk tajuk yang bervariasi dengan penempatan (pengaturan tata ruang) yang sesuai akan memberi kesan keindahan tersendiri.

Berdasarkan jenisnya, Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) meliputi taman kota, parkir terbuka, pantai, dll. Untuk RTHKP dalam jenis pantai, sebenarnya telah terdapat di Anjungan Pantai Losari, tetapi kami melihat terdapat potensi yang dapat dikembangkan di sepanjang pesisir pantai, telepas dari kawasan anjungan. Kawasan yang kami teliti terletak di depan Benteng Fort Rotterdam, yang dulunya merupakan dermaga untuk menyebrang ke pulau-pulau spermode, tetapi sekarang sudah tidak difungsikan serta dipadati oleh PKL yang berantakan dan akhirnya membuat kesan jorok. Hal tersebut dicerminkan oleh sistem pembuangan sampah mereka langsung ke laut, yang menyebabkan pencemaran.

Jika hal ini terus berlanjut maka akan berdampak buruk pada kawasan tersebut yang dapat mempengaruhi kondisi Benteng Fort Rotterdam yang merupakan salah satu situs wisata di Kota Makassar, ruang terbuka yang ada sekarang di kawasan tersebut juga berpotensi menjadi tempat wisata bagi pengunjung yang datang untuk bersantai dengan nyaman di kawasan tersebut selain untuk keperluan menyebrang ke pulau seberang.

Oleh karena itu perlunya pengkajian dari regulasi yang ada tentang ruang terbuka hijau.

Isu Permasalahan

  • RTHKW di Kota Makassar belum mencukupi standar yang berlaku, dalam artian masih sangat kurang.

  • Pemanfaatan akan lahan-lahan yang berpotensi untuk peralihan fungsi ke RTHKW juga masih kurang.

  • Terdapat lahan disepanjang pesisir Pantai Losari, yang dulunya adalah bekas dermaga, yang tidak difungsikan lagi.